I AM MALALA

“Di mana Malala? Yang mana di antara kalian yang bernama Malala? Katakan atau kutembak kalian semua!” Teriak seorang laki-laki bersenjata di bus yang membawa pulang anak-anak sekolah di Mingola, Pakistan. Dalam hitungan menit, timah panas bersarang di kepala dan leher Malala.

Peristiwa tersebut mengegerkan dunia.  Malala Yousufzai, gadis usia 14 tahun ditembak, kelompok Islam garis keras. Usianya masih sangat belia, tetapi keberaniannya melebihi singa gurun. Pelajar kelahiran Mingora, Lembah Swat, Pakistan, pada 12 Juli 1997 ini sejatinya sama seperti gadis kecil kebanyakan. Namun, yang membedakan adalah keberanian yang terpatri dalam dirinya. Anak seusia itu biasanya lebih senang berkumpul dengan teman-temannya dan pergi menghabiskan waktu bermain menikmati masa remajanya. Tidak demikian halnya dengan Malala. Sejak berusia sebelas tahun, dia telah aktif menjadi aktivis pendidikan anak perempuan. Bahkan, dia menyatakan dirinya sebagai seorang aktifis pembela hak-hak perempuan.  Dia sangat peduli terhadap isu-isu perempuan, terutama pendidikan anak perempuan.

Malala menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam blog BBC berbahasa Urdu. Tulisan-tulisannya berbentuk diary, pengalamannya sehari-hari di tempat tinggalnya. Dia menulis bagaimana kelompol Islam garis keras sangat berpengaruh dan berkuasa di daerah tempat tinggalnya Mingora, Lembah Swat, Pakistan, sebuah daerah yang telah dikontrol oleh kelompok garis keras sejak tahun 2007 hingga sekarang. Sejak Januari 2009, kelompok garis keras menutup sekolah-sekolah dan melarang perempuan bersekolah. Kelompok garis keras, kelompok teroris bentukan AS saat perang melawan pengaruh Soviet, melarang anak-anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Bagi mereka, perempuan yang bersekolah merupakan simbol kebudayaan Barat.

Buku ini merangkum berbagai informasi mengenai sepak terjang Malala, jauh sebelum insiden penembakan tersebut, dalam memperjuangkan hak para anak perempuan di Pakistan untuk memperoleh pendidikan.  Buku ini ditulis dengan tujuan untuk memotivasi anak-anak dan orangtua di Indonesia agar tidak mudah berputus asa, khususnya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya, apa pun tantangan dan kendalanya. Keberanian, kegigihan, dan semangat pantang menyerah Malala patut dijadikan contoh dan teladan.

Diambil dari buku – I AM MALALA

melwin.siboro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *