Hari Pahlawan 10 November 2017

Hari ini, 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari Pahlawan berawal dari pertempuran Surabaya yang terjadi pada 1945.

Terjadinya peperangan besar-besaran antara tentara dan milisi Indonesia yang pro kemerderkaan melawan tentara Britania Raya dan Belanda.

Pertempuran Surabaya jadi perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Juga jadi pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Continue reading

Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Yang dimaksud dengan “Sumpah Pemuda” adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap “perkumpulan kebangsaan Indonesia” dan agar “disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan”.

Istilah “Sumpah Pemuda” sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

sumber

 

1 Juni Hari Lahirnya Pancasila

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPKI, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945).Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: “Perwakilan Rakyat”).

Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya “Pancasila”. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya. Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.”

PRE ORDER BUKU DIARY RAMADHAN

Hai hai Ayah dan Bunda sahabat Puspa Swara sekalian…
Bentar lagi bulan Ramadhan looh..
Yuk kita ajarkan kebaikan untuk sang buah hati dengan buku Diary Ramadhan terbitan Indria Pustaka (Puspa Swara Grup)
Hanya Rp. 59.000

Diary Ramadhan Diary Ramadhan

Di dalam buku ini berisi Pencatatan ibadah wajib harian, kegiatan pembiasaan berbuat baik, craft asyik seru, dan bonus sertifikat yang diisi ortu dan bisa di bingkai looh.

Keunggulan lain buku Diary Ramadhan:
– Buku ini akan membantu anak-anak beribadah dan melakukan kebaikan selama ramadhan.
– Ada lembar tantangan perbuatan baik yang dapat diisi bersama adik kakak dengan bimbingan orangtua. Melakukan perbuatan baik bersama-sama tentu lebih seru bukan?
– Menjadikan anak lebih mudah melaksanakan ibadah Ramadhan dengan ‘diary’ di buku ini,
– Ada akivitas kreatif di dalam buku untuk mengisi Ramadhan.
– Bonus sertifikat pejuang puasa Ramadhan.

Bonus Sertifikat Ramadhan

Yuk Ayah dan Bunda berikan hadiah istimewa menyambut bulan Suci Ramadhan untuk anak-anak Ayah dan Bunda

Untuk Pemesanan Pre Order Bisa hubungi : 0838-1853-8332 atau email ke salesonline@puspa-swara.com

Biografi RA Kartini

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Trend Baju Kebaya Muslim

Perkembangan dunia fashion memang tidak pernah ada habisnya, dan yang akan menjadi pokok pembahasan artikel kali ini adalah tentang fashion kebaya muslim. Kebaya muslim sekarang ini semakin berkembang dengan pesat seiring dengan banyaknya muslimah yang menggemarinya.

Tren baju kebaya mulsim untuk wanita berhijab saat ini sudah mengalami perkembangan dimana saat ini tersedia aplikasi kebaya dalam beberapa model busana, mulai dari yang casual, modis, stylish, dan syar’i.

Puspa Swara Trend Baju Kebaya Muslim
Foto diambil dalam buku Inspirasi Padu Padan Kebaya Muslimah

Banyaknya kebaya yang dijual di pasaran juga bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin menciptakan sendiri rancangan kebaya muslim untuk dipakai sendiri. Mungkin saja Anda ingin mengkreasikan model Anda sendiri namun dengan mengambil inspirasi dari berbagai kebaya muslim yang telah ada.

Keberagaman akan berbagai model busana kebaya muslim bisa Anda manfaatkan dengan ide yang Anda miliki untuk mengkreasikan kebaya dalam bentuk busana muslim dengan trend fashion yang sedang berkembang saat ini.

Puspa Swara Trend Baju Kebaya Muslim
Foto diambil dalam buku Inspirasi Padu Padan Kebaya Muslimah

Kebaya muslim yang dikenakan saat menghadiri acara resmi dan pestaakan memberikan kesan positif pada penggunanya. Dengan kain brokat dan sentuhan border membuat pakaian kebaya menjadi semakin cantik dan elegan tentunya ditunjang dengan pemilihan warna dan model yang sesuai.

Puspa Swara Trend Baju Kebaya Muslim
Foto diambil dalam buku Inspirasi Padu Padan Kebaya Muslimah

Puspa Swara Trend Baju Kebaya Muslim
Foto diambil dalam buku Inspirasi Padu Padan Kebaya Muslimah