Berawal Dari Mimpi

BERAWAL DARI MIMPI

Waktu kecil, saat sedang bermain blokken (micano),  sejenis lego pada masa sekarang, Habibie suka membuat kapal terbang. Dan ketika ditanya apa cita-citanya, dia menjawab dengan penuh percaya diri mau jadi insinyur.
“Pada masa itu di kota Parepare setahu saya baru datang seorang dokter umum, dokter hewan, dan paling tinggi jabatan teknik di pekerjaan umum dipegang oleh opzichter*. Tetapi mungkin juga karena pada saat itu ada seorang insinyur baru, kalau tidak salah namanya Insinyur Sumawi, tetapi saya lupa apakah tinggal di Parepare atau Makassar, yang jelas insinyur yang baru datang itu jadi pembicaraan orang-orang, maklumlah pada saat itu belum banyak insinyur. Mungkin Rudy dengar cerita dari kehebatan insinyur itu sehingga dengan pasti dia dapat menyatakan bercita-cita menjadi insinyur,” kenang Titi Sri Sulaksmi kakak sulung Habibie.
Mimpi akan menjadi kenyataan jika diperjuangkan dengan terus-menerus, bersungguh-sungguh, dan konsisten.
Itu pula yang dilakukan Habibie. Lebih banyak waktunya untuk belajar dibandingan bermain dengan teman-temannya.
Sejak kecil Habibie sudah berlatih untuk berpikir. Di antara kegemarannya menunggang kuda dan bermain kelereng, Habibie selalu berpikir mengapa jembatan tidak runtuh. Pemikirannya mengenai hukum alam itu semakin berkembang dan keinginannya untuk mendalami ilmu fisika semakin kuat.
Ketika menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Habibie sempat bergabung dengan Aeromodeling Club. Habibie membuat model pesawat terbang dan memperagakannya.
Ketika datang kesempatan untuk belajar di Jerman, Habibie mengambil jurusan Ilmu Aeronautika karena banyak ilmu fisikanya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Habibie pun segera mengurus prosedur ke kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.
“Kamu inilah harapan bangsa,” kata Prof. Mr. Mohammad Yamin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sambil mengelus-elus kepala Habibie.
Mohammad Yamin menganjurkan Habibie agar belajar pesawat dan teman-temannya yang lain belajar perkapalan.
Habibie pergi ke Jerman untuk menjemput mimpinya.
Dia terbang bersama pesawat KLM (Royal Dutch Airlines), pesawat jenis Super Constellation. Ini merupakan pengalaman pertama Habibie naik pesawat terbang.
Di Technische Hochschule Aachen Jerman Barat, Habibie memilih jurusan konstruksi pesawat terbang.
Habibie ingat anjuran Mohammad Yamin. Dia juga terinspirasi nama pesawat terbang pemburu Me.109, salah satu pesawat terbang militer termasyhur pada Perang Dunia II.
Habibie juga mengagumi Prof. Willy Messerschmitt, salah seorang desainer pesawat dan pengembang aeronautika di Jerman. Ia juga sempat belajar dan bekerja di Technische Hochschule Aachen, kampus yang sama dengan Habibie.
Habibie membuat target untuk dirinya sendiri. Setiap tahun harus lulus.
Pada musim liburan, Habibie tetap mengikuti ujian atau mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa liburan, semua kegiatan sampingan dilepaskannya.
Bagi Habibie, ujian adalah kesempatan. Kapan pun dia selalu berusaha lulus. Apabila dalam ujian, dia memperoleh angka 10, disyukurinya. Apabila tidak, juga tidak apa-apa. Empat tahun kemudian dalam umur 22 tahun, Habibie sudah berada pada tingkat akhir sebagai calon insinyur.
Habibie tidak hanya memikirkan pelajaran, dia juga tertarik dengan permasalahan di tanah air. Habibie menyediakan waktu untuk aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Menjadi anggota pertemuan mahasiswa di Jerman, mewakili mahasiswa muslim, dan sebagai pimpinan Ikatan Mahasiswa Unesco. Sampai akhirnya Habibie diangkat menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Aachen.
“Pada zaman sebelum perang, para pelajar dan mahasiswa kita di negeri Belanda bergerak untuk berusaha memerdekakan bangsanya. Untuk itu, kita sebagai pejuang bangsa harus pula berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara selama kita berada di Eropa ini. Perjuangan kita adalah mengisi kemerdekaan,” ucap Habibie pada teman-temannya kala itu.
Tahun 1958, Habibie mencetuskan gagasan untuk menyelenggarakan seminar pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa.
Ide seminar tersebut merupakan hal baru dan penting pada masa itu yang mencerminkan adanya suatu gagasan positif dari generasi muda. Menyatukan beragam pemikiran kelompok yang terkotak-kotak karena aspirasi politik yang berbeda.
Seminar yang berlangsung lima hari, 20 sampai 25 Juli 1959, itu berjalan sukses walaupun tanpa kehadiran Habibie. Pada waktu itu Habibie sedang sakit, terbaring di ruang jenazah. Dokter sudah memvonisnya tidak memiliki harapan hidup.
Ternyata Habibie masih diberikan kesempatan kedua untuk kembali bernapas.
Dengan sekuat daya upaya, Habibie terus bertahan. Hingga dia menuliskan sumpahnya dalam secarik kertas. Jika diberi kesempatan kedua, Habibie akan berjuang mewujudkan mimpinya, menjadi seorang yang ahli di bidang pesawat terbang. Kemudian pada saatnya akan pulang ke tanah air, membangun Indonesia dan menebar inspirasi pada segenap anak Ibu Pertiwi.
Habibie memang tidak mudah ditumbangkan.
Ketika dipaksa oleh keadaan pada tahun 1998 hingga N-250 Gatotkaca gagal dikembangkan, Habibie tidak menerima begitu saja.
Sambil membenahi keadaan, api mimpi menjadikan Indonesia sebagai produsen pesawat terbang tetap berkobar di dalam dadanya.
Tahun 2012 Habibie kembali terbang bersama sayap-sayap mimpinya, membuat pesawat R-80 – The Next N-250 si Gatotkaca yang rencananya pada 2017 atau 2018 akan mengudara melintasi nusantara dan dunia.
Kita tunggu kejutan Habibie berikutnya.

 

Diambil dari buku Pesawat Habibie Sayap-sayap Mimpi Indonesia

melwin.siboro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *