1826 Menembus Janji Matahari

Hubungan saya dengan Bapak, bisa dibilang istimewa. Melihat dan mengingatnya kembali di masa sekarang, saya jadi lebih bisa memaknai peran Bapak di rumah mungil kami dulu. Lahir di Lintau Buo, Bapak sudah merantau sejak masa muda ke Jakarta. Besar di keluarga Minang yang menjalankan adat istiadat, Bapak sudah sejak umur belasan meninggalkan rumah untuk tinggal di surau, sebuah kebiasaan jaman dulu yang biasa dilakukan oleh pemuda kampungnya jika mereka sudah akil baligh. Setelah merantau dan tinggal bertahun-tahun di Jakarta dan Depok, Bapak masih menjalankan tradisi Minangnya dengan taat: Mengasuh anak dengan baik tanpa melupakan tugasnya sebagai seorang paman. Dari Bapak dan sepupu-sepupu, saya akhirnya tahu bahwa Bapak juga membiayai sekolah beberape keponakan yang memang sudah yatim. Bapak juga sangat perhatian pada keponakan-keponakan Ibu. Bahkan saya beberapa kali cemburu, karena Bapak selalu membelikan buah anggur (yang kebetulan mahal harganya) buat sepupu yang kebetulan tinggal di rumah, yang sedang sakit. Protes saya adalah: “Kalau Nelly sakit, cuma dibelikan keripik!” Ya, saya memang lugu dan gagal melihat kebaikan hati Bapak. Setelah dewasa, saya sepertinya tahu bahwa Bapak memang memuliakan siapa pun yang datang dan menginap di rumah kami.
Dari Bapak juga saya belajar menghargai waktu dan berbagi, di tengah kekurangan kami. Satu masa saat saya baru saja diterima di IKIP Jakarta (sekarang UNJ), Bapak yang saat itu sangat bahagia karena saya bisa masuk ke sebuah universitas negeri tanpa melalui tes, sangat semangat mengantar saya di hari pertama OSPEK universitas. Kami tidak punya mobil, hanya sebuah vespa, yang sayangnya Bapak tidak berani bawa jauh-jauh. Jadi, Bapak mengantarkan saya dengan menumpang sebuah patas yang kebetulan tempat pemberhentiannya di dekat rumah. Jam 3 pagi Bapak sudah membangunkan saya. Saya bersungut-sungut, sedikit kesal, karena masih mengantuk. Satu jam kemudian, kami sudah sampai di tempat mangkal patas itu. Ya subuh-subuh. Jam 4 subuh. Waktu saya bertanya kenapa mesti pagi sekali padahal jadwal OSPEK dimulai jam 8 pagi dan perjalanan Depok-Rawamangun paling hanya 2 jam (kalau tanpa macet). Bapak bilang,” Lebih baik menunggu di sana, daripada kita berangkat pas-pasan dan kamu terlambat. Kalau sudah jam 6, pasti macet.” Dan kami pun sampai pada pukul 6 pagi di Rawamangun. Karena jalanan masih demikian kosong subuh itu. Setelah sampai, kami sholat subuh di masjid dekat kampus. Setelah selesai, Bapak, malah ingin mengantarkan saya sampai ke tempat OSPEK. Saya tidak kuasa menolak, meskipun saya tahu pasti saya akan kena hukuman jika ketahuan diantar orang tua. Di belakang kampus, saya melihat beberapa anak diantar oleh orang tua mereka dengan mobil dan turun agak jauh. Agar tidak terlihat oleh senior. Tapi Bapak, beliau malah mau mengantarkan saya. Tidak hanya mengantar, beliau pun bersalaman dengan kakak-kakak senior saya! Hasilnya, ya tentu saja saya dihukum. Tapi itu Bapak. Dengan caranya beliau selalu mengajarkan saya untuk tertib waktu. Selain itu, beliau juga ingin kenal dengan lingkungan dan teman-teman saya. Dengan begitu beliau tidak pernah repot mewawancara saya tentang siapa si ini dan si anu. Bapak juga jarang melarang, malah memberikan kepercayaan. Dengan mengenal teman-teman saya, Bapak tahu ia tidak perlu repot-repot mengekang anaknya. Sekarang saya tahu apa maksud Bapak.
Bapak juga mengajarkan untuk selalu berbagi. Dengan contoh, bukan dengan ucapan. Suatu hari, setelah pulang mengajar, Bapak pernah membawa pulang sekarung mangga. Asam semua. Tentu saja ibu marah besar. Bapak hanya diam. Saat saya tanya apakah beliau tahu mangga itu masam saat membeli, Bapak bilang, “Bapak gak tau. Gak dicoba soalnya. Bapak beli karena kasian yang jual sudah tua dan sudah sore. Jadi Bapak beli saja. Tanpa mencobanya dan tanpa menawar. “
Hari lain, Bapak akan menyuruh masuk beberapa tukang gorengan untuk berteduh di warung kami saat hujan. Warung jadi becek dan basah. Bapak tidak keberatan. Tentu saja, Bapak tidak lupa membeli. Tidak minta gratis!
Itu Bapak. Mudah tersentuhnya Bapak pun akhirnya menurun secara pasti dalam darah saya. Saya mudah menangis apabila melihat seorang Bapak tua berjualan dan tidak ada yang beli. Atau, saya rela kasihkan uang jajan saya saat melihat seorang Bapak tua di terminal Depok yang bilang ke saya, kalau dia harus mengumpulkan sedemikian uang untuk hutang yang tidak terbayar selama bertahun-tahun, kalau tidak ia akan “dipindahagamakan” oleh oknum tertentu. Teman-teman saya bilang ia menipu. Buat saya, kalau ia harus menipu untuk mendapatkan uang, mungkin karena ia memang perlu untuk makan. Mungkin naïf, tapi saya tidak pernah merasa menyesal setelahnya.
Hubungan saya dengan Bapak memang layaknya teman. Di saat anak lain tumbuh dengan dimarahi dan dikekang, saya tumbuh dengan dialog, komunikasi dan kepercayaan. Dengan Bapak, saya bisa berbagi apa saja, tentang teman, tentang kakak kelas yang saya suka, tentang pelajaran saya, guru-guru dan semua. Tidak heran Bapak selalu hapal dengan semua nama teman-teman saya. Jadi, kalau saya minta ijin untuk pulang sekolah agak terlambat karena akan bermain di rumah seorang teman, Bapak pasti akan kasih ijin. Bahkan perpisahan kelas yang diadakan di Puncak pun, Bapak selalu memberikan kepercayaan penuh pada saya. Pasti tidak mudah memberikan ijin kepada seorang anak SMA yang sedang senang-senangnya bergaul dengan lawan jenis, tetapi Bapak memberikan kepercayaan itu. Saya pun insya Allah tidak pernah melanggar kepercayaan Bapak. Insya Allah.
Cerita tentang Bapak selalu ingin saya bagi. Saya merasa ada sebuah pesan khusus yang bisa dipelajari antara hubungan saya dengan Bapak. Maka, di novel terbaru saya #1826, saya memang menuliskan Bapak. Natural saja. Karena beliau memang begitu adanya. Di hidup saya.
Dulu, saya tidak pernah menyadari bahwa hubungan kami istimewa, dan saya pikir semua Bapak akan berlaku sama kepada anaknya. Setelah dewasa dan mengenal beberapa teman secara dekat, saya kemudian menjadi mengerti tidak semua Bapak, bisa berkomunikasi dengan anaknya. Hubungan Bapak dan anak pun tidak selamanya harmonis. Saya pun menuliskan Bapak apa adanya. Seada-adanya hubungan kami.  Di novel saya yang terbaru, 1826, tanpa saya sadari saya sudah memberikan porsinya sendiri untuk Bapak dan tentang Bapak.
Saat saya pikir novel saya hanya untuk remaja agar mereka lebih termotivasi untuk menggapai cita-citanya dan bekerja keras, ada satu pembaca #1826 yang melihatnya sebagai sebuah buku parenting. Saya terkesan dengan lensa yang ia pakai dalam melihat satu kisah di #1826:
“Keren Nelly, deskriptif banget. Tiga jempol. Baca buku ini, sambil nangis terus, keren dan sedih. Juga, hmm di 1826 banyak unsur parentingnya…. jadi kalau di ilmu parenting dianjurkan peran bapak dalam mendidik anak dalam menghadapi beberapa masalah hidup, seperti, sikap tegas, disiplin, semangat juang dan semacamnya. Di buku 1826 ini banyak sekali ilmu tentang itu yang diperlihatkan oleh Ayah Kelly. Buku ini sudah menginspirasi, mengingatkan saya lebih tepatnya”. – Marthia Larasati, Depok, Penggiat ASI Ekslusif.
Beberapa kali saya juga menerima sebuah pesan pendek di Path, Facebook, Whatsapp dan email saya, tentang bagaimana mereka demikian tersentuh dengan sosok Bapak di novel 1826.
Saya bersyukur dan berterima kasih. Novel ini memang ditulis untuk semua orang yang sangat berarti dalam hidup saya. Untuk Bapak. Untuk Ibu. Untuk Uni. Untuk Lesky dan semua teman-teman saya.
Untuk pembaca 1826, saya jatuh cinta pada kalian. Kalian sudah membuat saya melihat 1826 dari titik yang berbeda-beda. Terima kasih!

 
Madison, awal Mei 2014.
Nelly Martin

 

Diambil dari buku : 1826 Menembus Janji Matahari

PENULIS:NELLY MARTIN
UKURAN:13 x 19;272 BW
ISBN: 978 602 2140 02 3

melwin.siboro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *