Amaliah Ramadan

AMALIAH RAMADAN

Pada bulan Ramadan, ada dua kejadian penting yang harus kita ketahui, yaitu kewajiban berpuasa dan turunnya Al-Quran. Al-Quran menjadi pedoman bagi orang yang bertakwa dan puasa mengantarkan orang beriman menjadi orang yang mutaqqin. Amaliah Ramadan terfokus pada dua aktivitas tersebut. Amal-amal lainnya tidak lepas dari ibadah untuk mengondisikan hati dalam menerima Al-Quran dan upaya orang beriman untuk mengaplikasikan Al-Quran dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Berikut  ini amal-amal yang dilakukan Rasulullah saw. di bulan Ramadan.

1. Siyam (puasa)
Shaum atau siyam bermakna menahan (al-imsaak). Menahan itulah aktivitas inti dari puasa. Menahan makan dan minum serta segala macam yang membatalkannya dari mulai terbit fajar sampai tenggelam Matahari dengan diiringi niat. Jika aktivitas menahan ini dapat dilakukan dengan baik, seorang Muslim memiliki kemampuan pengendalian, yaitu pengendalian diri dari segala hal yang diharamkan Allah swt.
Dalam berpuasa, orang beriman harus mengikuti tuntunan dan suri-teladan yang telah diajarkan Rasulullah saw. atau sesuai dengan adab-adab Islam sehingga puasanya menjadi benar.

2. Berinteraksi dengan Al-Quran
Ramadan adalah bulan turunnya Al-Quran (Al-Baqarah:185). Pada bulan ini, Al-Quran benar-benar turun ke bumi (dunia) untuk menjadi pedoman manusia dari segala macam aktivitasnya di dunia. Malaikat Jibril pun turun untuk me-muroja’ah (mendengar dan mengecek) bacaan Al-Quran dari Rasulullah saw. pada bulan ini. Karena itu, dapat dipahami jika Rasulullah saw. lebih sering membaca Al-Quran pada bulan Ramadan.
Iman Az-Zuhri pernah berkata, ”Apabila datang Ramadan, kegiatan utama kita (selain siyam) ialah membaca Al-Quran.” Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memerhatikan tajwid dan esensi dasar diturunkannya Al-Quran, yaitu untuk di-tadabburi, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (baca dan pahami Shad: 29).
Jadi, pada bulan ini umat Islam harus benar-benar berinteraksi dengan Al-Quran untuk meraih keberkahan hidup dan meniti jenjang menuju umat yang terbaik dengan petunjuk Al-Quran. Umat Islam harus hidup dalam naungan Al-Quran, baik secara tilawah (membaca), tadabbur (memahami), hifzh (menghafalkan), tanfidzh (mengamalkan), ta’lim (mengajarkan), dan tahkim (menjadikannya sebagai pedoman).
Rasulullah saw. bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْاَنَ وَ عَلَّمَهُ
“Sebaik-baiknya kamu ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkannya.”

3. Qiyam Ramadan (Salat Tarawih)
Ibadah yang sangat dianjurkan Rasulullah saw. di malam bulan Ramadan adalah Qiyamu Ramadan. Qiyam Ramadan diisi dengan salat malam atau yang biasa dikenal dengan salat Tarawih. Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيمْاَناً وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَّدَمَ مِنْ ذَ نْبِهِ
“Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadan dengan penuh iman dan perhitungan maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘aliahi)
4. Memperbanyak Zikir, Doa, dan Istigfar
Bulan Ramadan adalah bulan yang kebaikan pahalanya dilipatgandakan. Oleh karena itu, jangan membiarkan waktu menjadi sia-sia tanpa aktivitas yang berarti pada bulan Ramadan. Beberapa aktivitas yang sangat penting dan berbobot tinggi, namun ringan dilakukan, adalah memperbanyak zikir, doa, dan istigfar. Bahkan, doa orang-orang yang berpuasa sangat mustajab.
Sebagai seorang Muslim, kita harus memperbanyak berdoa untuk kebaikan diri dan umat Islam yang lain, khususnya yang sedang ditimpa kesulitan dan musibah. Waktu-waktu doa dikabulkan adalah:
• Saat berbuka puasa.
• Sepertiga malam terakhir, yaitu ketika Allah swt. turun ke langit dunia dan berkata, ”Siapa yang bertobat? Siapa yang meminta? Siapa yang memanggil? Sampai waktu salat Subuh tiba.” (HR Muslim).
• Memperbanyak istigfar pada waktu sahur. Allah Ta’ala berfirman, “Dan waktu sahur mereka memohon ampun.”
• Mencari waktu mustajab pada hari Jumat, yaitu pada saat-saat terakhir pada sore hari Jumat.
• Duduk untuk zikir, doa, dan istigfar di masjid, yaitu setelah menunaikan salat Subuh sampai terbit Matahari. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, “Barang siapa salat Fajar berjamaah di masjid, kemudian tetap duduk berzikir hingga terbit Matahari, lalu salat dua rakaat, maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR At-Tirmidzi)

5. Sedekah, Infak, dan Zakat
Rasulullah saw. seorang yang paling pemurah. Pada bulan Ramadan, beliau lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah saw. di bulan Ramadan melebihi angin yang berembus karena begitu cepat dan banyak. Dalam sebuah hadis disebutkan,
اَفْضَلُ الصَّدَقَةُ صَدَقَةُ رَمَضَانَ
“Sebaik-baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadan.”  (HR Al-Baihaqi, Al-Khatib, dan At-Turmudzi)
Ada salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan pada bulan Ramadan, yaitu memberikan ifthar (berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِهِ غَيْرَ اَ نَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa yang memberi ifthar kepada orang-orang yang berpuasa maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

6. Menuntut Ilmu dan Menyampaikannya
Bulan Ramadan adalah saat yang paling baik untuk menuntut ilmu keislaman dan mendalaminya karena hati dan pikiran sedang dalam kondisi bersih dan jernih sehingga sangat siap menerima ilmu-ilmu Allah swt.
Waktu-waktu seperti (sesudah) subuh, zuhur, dan menjelang berbuka sangat baik sekali untuk menuntut ilmu. Pada saat yang sama, para ustaz dan dai akan meningkatkan aktivitasnya untuk berdakwah menyampaikan ilmu kepada umat Islam yang lain.

7. Umrah
Umrah pada bulan Ramadan juga sangat baik dilaksanakan karena akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Rasulullah kepada seorang wanita dari Anshar yang bernama Ummu Sinan, “Agar apabila datang bulan Ramadan, hendaklah ia melakukan umrah karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah saw.” (HR Bukhari dan Muslim)

8. Iktikaf
Iktikaf adalah puncak ibadah di bulan Ramadan. Iktikaf adalah tetap tinggal di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan segala aktivitas keduniaan. Iktikaf merupakan sunah yang selalu dilakukan Rasulullah pada bulan Ramadan. Rasulullah saw. bersabda,
كَانَ النَّبِيَّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِنْزَرَهُ وَ اَحْيَالَيْلَهُ وَاَ يْقَظَ اَهْلُهُ
“Rasulullah saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

9. Mencari Lailatul Qadar
Lailatul Qadar (malam kemuliaan) merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Islam melalui Rasulullah saw. Malam ini nilainya lebih baik daripada seribu bulan biasa. Ketika kita beramal di malam itu, berarti seperti beramal dalam seribu bulan. Malam kemuliaan itu waktunya dirahasiakan Allah swt. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan untuk mencarinya. Rasulullah saw. bersabda, “Carilah di sepuluh terakhir bulan Ramadan dan carilah pada hari kesembilan, ketujuh, dan kelima”. Saya berkata, wahai Abu Said engkau lebih tahu tentang bilangan.” Abu Said berkata: ”Betul.” “Apa yang dimaksud dengan hari kesembilan, ketujuh, dan kelima”. Ia berkata: ”Jika sudah lewat 21 hari maka yang kurang 9 hari, jika sudah 23 yang kurang 7, dan jika sudah lewat 25 yang kurang 5.” (HR Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Al-Baihaqi)
Ketika mendapatkannya, Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk membaca doa berikut.
اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun, suka mengampuni, maka ampunilah saya.” (HR At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

10. Menjaga Keseimbangan dalam Ibadah
Keseimbangan dalam beribadah adalah sesuatu yang prinsip. Kewajiban keluarga harus ditunaikan, begitu juga kewajiban sosial lainnya. Rasulullah saw. senantiasa menjaga keseimbangan. Walaupun beliau khusyuk dalam beribadah di bulan Ramadan, ia tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah r.a., Rasulullah saw. adalah tokoh yang paling baik untuk keluarga. Selama bulan Ramadan, beliau tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga. Bahkan, ketika Rasulullah berada dalam puncak praktik ibadah shaum, yakni iktikaf, harmoni itu tetap terjaga.

(dari buku Meraih Surga dengan Puasa Kaysa Media)