Bila Esok Ibu Tiada

Di dalam tahanan Toni bersiap akan menerima kehadiran keluarganya.
“Saya akan dijenguk hari ini,” ujar Toni pada teman-teman satu sel.
“Oh, salam dari kami ya? Berarti ibumu dari luar kota ya?” sahut salah satu teman.
Toni mengangguk. Wajahnya tampak berseri. Mirip seorang anak kecil yang akan mendapat mainan dari ibunya.
“Semoga Ibu baik-baik saja dan mau menerima keadaan anaknya,” kata Toni lagi.
“Pasti, Pak Toni. Semua ibu pasti akan selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya,“ sahut teman yang lain.
Toni mengangguk-angguk. Lantas ia berjalan hilir mudik di dalam sel. Ia mulai merasa tidak tenang. Toni tampak tidak sabar.
Beberapa saat kemudian, sipir mendatanginya. Toni tersenyum bahagia. Ia berharap ibu dan adiknya sudah berada di ruang kunjungan.
“Ada kabar untuk Pak Toni.” Kata sang sipir.
“Ya. Ibu saya sudah datang, Pak? Mereka sudah di sini?” tanya Toni bersemangat.
Sipir diam sesaat. Ia menatap Toni agak lama.
“Pak? Di mana Ibu saya? Sudah datang?” Toni kembali bertanya.
“Maaf, Pak Toni. Ibu Anda….”
Namun, kabar duka yang disampaikan sipir membuat Toni bagai dihantam sebuah batu besar. Dadanya sesak, mulutnya kelu. Saat itu juga ia terduduk lemas. Sesaat kemudian ia menangis lalu meraung-raung.
“Ibuuuuu… jangan tinggalkan aku… Ibuuuuu!!!”
Para sipir segera membawa Toni ke ruangan lain untuk menenangkan diri. Para tahanan lain mengelus dada, merasa prihatin.
“Aku ingin bertemu Ibu. Aku ingin meminta maaf pada Ibu. Aku butuh Ibu! Ibuuuuu…!!!”
Toni berteriak sekeras-kerasnya. Ia menyesal tidak mendatangi ibunya saat proses pendirian pabrik itu berjalan. Seandainya ia mau mendatangi ibunya lalu menerima nasihatnya, mungkin ia akan menghentikannya dan masalah selesai. Segalanya akan berakhir baik. Bukan berakhir dengan perceraiannya, bukan berakhir dengan mendekam dalam penjara, bukan berakhir dengan kematian ibunya.
Seandainya waktu bisa terulang….

Itu adalah sekelumit kisah penyesalan seorang anak terhadap ibunya. Buku “BILA ESOK IBU TIADA” berkisah tentang sepuluh anak manusia yang mengisi hari-hari berbeda ketika ibu masih ada. Lalu, penyesalan apa yang terjadi setelah ibu tiada?

 

Diambil dari buku Bila Esok Ibu Tiada

ibutiada

Bila Esok Ayah Tiada

Agna memainkan pensil yang ada di tangannya. Ia selalu begitu. Saat cemas, Agna akan memutar-mutar benda kecil apa saja yang ada di tangannya. Ya, saat ini Agna memang cemas. Ayah sakit, sudah seminggu berada di ruang rawat inap rumah sakit.
Ayah tertidur pulas di tempat tidur. Pada ruangan ber-AC yang dihuni oleh dua pasien. Tangan kiri Ayah diinfus. Cairan bening dialirkan ke tubuh Ayah melalui selang kecil. Untuk membantu buang air kecil juga dipasangkan selang.
Menurut Agna mungkin Ayah menderita. Ia tidak bisa bergerak dengan leluasa. Jangankan berjalan-jalan, duduk saja Ayah sulit. Bila terlalu banyak bergerak, Ayah harus menggunakan masker oksigen karena napasnya kerap tersenggal-senggal.
Menatap wajah Ayah yang tertidur pulas membuat Agna merasa bersalah. Ayah masuk rumah sakit akibat dirinya. Saat itu, Agna ngotot minta dibelikan laptop baru karena ia harus mengerjakan tugas kampus. Laptop di rumah rusak. Agna panik karena tugas kampus harus selesai minggu ini.
“Kamu bisa pinjam teman, Agna,” kata Ayah.
“Malu ah,” jawab Agna.
“Ya sudah, kamu ke warnet aja. Di sana kan bisa sewa komputer.”
“Aduuuh. Gak mau. Di warnet gak enak.”
“Cuma sementara kok. Bulan depan Ayah belikan.”
“Ya ampun Ayaaaah… ini kepepet. Pokoknya harus ada laptop. Kalau Agna gak bisa mengerjakan tugas, Agna gak dapat nilai. Agna harus ulang lagi mata kuliah itu semester depan. Ayah mau, kuliah Agna lebih lama lagi.”
“Iya. Tapi cara lain kan masih bisa.”
“Ayah memang gak sayang sama Agna. Sejak kecil sampai sekarang Ayah tidak pernah sayang sama Agna. Selama ini, Agna gak pernah merasa disayang Ayah!”
Saat itu juga aku melihat Ayah meneteskan air mata.
Berbagai kenangan berkelebat dalam pikiran Agna. Ada rasa yang tiba-tiba mengharu biru. Tanpa terasa air mata Agna menetes. Ia sudah berprasangka buruk pada ayahnya selama ini.

Itu adalah sekelumit kisah penyesalan seorang anak terhadap ayahnya. Buku “BILA ESOK AYAH TIADA” berkisah tentang sepuluh anak manusia yang mengisi hari-hari berbeda ketika ayah masih ada. Lalu, penyesalan apa yang terjadi setelah ayah tiada?

Diambil dari buku Bila Esok Ayah Tiada

ayahtiada